GUANTANAMO BAY — Khalid Sheikh Mohammed, pria yang dituduh sebagai dalang utama serangan 11 September 2001 terhadap Amerika Serikat, akan diadili di hadapan pengadilan militer AS pada Juni 2028. Juru bicara pengadilan militer AS di Pangkalan Angkatan Laut Teluk Guantanamo, Kuba, mengumumkan jadwal sidang tersebut pada Kamis (27/8/2026). Keputusan ini mengakhiri hampir dua dekade penantian panjang dalam salah satu kasus terorisme paling kontroversial dalam sejarah hukum Amerika Serikat.
Mohammed, yang lebih dikenal dengan inisial KSM, adalah salah satu letnan paling dekat dengan Osama bin Laden sebelum akhirnya ditangkap pada Maret 2003. Selama bertahun-tahun, ia dianggap sebagai otak di balik perencanaan serangan yang menewaskan hampir 3.000 orang di New York, Washington, dan Pennsylvania pada 11 September 2001. Penangkapannya di Rawalpindi, Pakistan, menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam perang melawan terorisme yang dilancarkan pemerintahan AS pasca-9/11.
Sosok Khalid Sheikh Mohammed
Lahir di Kuwait pada 1965, KSM menempuh pendidikan tinggi di Amerika Serikat dan lulus dari North Carolina Agricultural and Technical State University pada 1986. Ia kemudian terlibat dalam berbagai operasi jihad, termasuk dugaan keterlibatan dalam pengeboman World Trade Center 1993 dan rencana pemboman pesawat di kawasan Asia. Pada 2008, KSM mengaku bertanggung jawab penuh atas serangan 9/11 "dari A sampai Z" dalam sidang militer di Guantanamo, sebuah pengakuan yang menjadi salah satu bukti kunci bagi jaksa penuntut.
"Saya bertanggung jawab atas operasi 11 September dari A sampai Z," ujar KSM dalam persidangan, pernyataan yang kemudian dikutip luas oleh media internasional.
Meski mengakui perannya, kasus KSM tidak pernah sederhana. Ia ditahan selama lebih dari dua tahun di fasilitas rahasia CIA sebelum dipindahkan ke Guantanamo pada 2006. Selama masa penahanan itu, ia diinterogasi dengan metode keras, termasuk waterboarding, yang kemudian memicu perdebatan sengit tentang penyiksaan serta keabsahan bukti yang diperoleh dari proses tersebut.
Perjalanan Hukum yang Berliku
KSM bersama empat terdakwa lainnya — Walid bin Attash, Ramzi bin al-Shibh, Ali Abd al-Aziz Ali, dan Mustafa al-Hawsawi — didakwa pada 2008 dengan tuduhan konspirasi, pembunuhan massal, dan aksi terorisme. Jaksa menuntut hukuman mati, menjadikan kasus ini salah satu persidangan hukuman mati terbesar dalam sejarah peradilan militer AS.
Namun, proses hukum berjalan sangat lambat akibat sengketa prosedur, pergantian hakim, dan kontroversi seputar bukti hasil interogasi. Sidang pendahuluan yang bergulir sejak 2012 baru menyentuh permukaan perkara. Pada 2024, muncul titik balik ketika pengacara pembela sempat mencapai kesepakatan pembelaan dengan jaksa — kesepakatan yang kemudian dibatalkan oleh Menteri Pertahanan AS saat itu — sebelum akhirnya penetapan jadwal sidang Juni 2028 mengukuhkan arah baru perkara ini.
Kontroversi dan Kritik Publik
Kasus KSM terus menuai kritik dari berbagai kalangan. Organisasi hak asasi manusia menilai pengadilan militer di Guantanamo tidak sepenuhnya memenuhi standar peradilan yang adil, terutama karena bukti yang dihasilkan dari teknik interogasi yang dianggap sebagai penyiksaan. Sementara itu, keluarga korban 9/11 terbelah: sebagian menuntut hukuman mati secepatnya, sebagian lainnya justru mendukung penyelesaian melalui kesepakatan agar kasus segera ditutup dan tidak terus menguras biaya negara.
"Lebih dari dua dekade kami menunggu keadilan. Apa pun hasilnya, kami hanya ingin proses ini berakhir dengan keputusan yang jelas dan pasti," ujar salah satu anggota keluarga korban dalam pernyataan yang disiarkan media.
Poin-Poin Kunci Kasus
- KSM dijadwalkan menjalani sidang di pengadilan militer Guantanamo pada Juni 2028.
- Ia ditangkap di Pakistan pada Maret 2003 setelah buron selama bertahun-tahun.
- KSM didakwa bersama empat terdakwa lain atas keterlibatan dalam serangan 9/11.
- Jaksa menuntut hukuman mati, tetapi proses terhambat selama hampir 20 tahun.
- Metode interogasi CIA terhadap KSM memicu kontroversi besar soal penyiksaan.
Harapan di Tengah Ketidakpastian
Penetapan jadwal sidang Juni 2028 disambut beragam kalangan. Bagi jaksa, ini adalah momentum untuk menuntaskan kasus yang telah menghabiskan miliaran dolar dana pembayar pajak. Bagi pengacara pembela, ini kesempatan untuk menguji keabsahan bukti-bukti yang diperoleh secara kontroversial. Bagi dunia, persidangan ini akan menjadi ujian terbesar bagi sistem peradilan militer AS di era pasca-9/11.
Satu hal yang pasti: setelah lebih dari 20 tahun, dunia akhirnya akan menyaksikan pengadilan resmi atas pria yang disebut sebagai otak serangan teror paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat. Pertanyaannya kini, apakah keadilan yang selama ini ditunggu akan benar-benar terwujud di ruang sidang Teluk Guantanamo, atau justru memunculkan babak kontroversi baru yang tak kunjung usai.
[SOCIAL_TWEET]: 📢 BREAKING: Pengadilan militer AS jadwalkan sidang Khalid Sheikh Mohammed, dalang 9/11, pada Juni 2028. Setelah 20 tahun menanti, keadilan akhirnya bergerak? #KSM #Guantanamo #911[SOCIAL_TG]: 🇺🇸 BREAKING: Sidang Khalid Sheikh Mohammed, dalang serangan 9/11, resmi dijadwalkan Juni 2028 di Guantanamo. Kasus penuh kontroversi yang berlangsung hampir 25 tahun ini akhirnya menuju babak akhir.
Comments (0)